
PARIGI MOUTONG, Kalammedia.net — Dari 24 puskesmas yang tersebar di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, sebanyak 10 puskesmas masih belum memiliki tenaga apoteker. Kondisi ini menjadi perhatian Pengurus Cabang Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Parimo yang meminta pemerintah daerah memperhatikan kebutuhan tenaga kefarmasian.
Ketua Pengurus Cabang IAI Kabupaten Parimo, Apt. Muhammad Basuki, mengatakan kekurangan tenaga apoteker perlu mendapat perhatian untuk mendukung pemerataan pelayanan kefarmasian di wilayah Parimo.
“Dari 24 puskesmas di Parimo, masih terdapat 10 puskesmas yang belum terisi tenaga apoteker, baik tenaga tetap maupun kontrak,” kata Basuki dalam kegiatan World Pharmacists Day 2026 di Auditorium Kantor Bupati Parimo, Sabtu, 26 September 2026.
Menurut Basuki, kebutuhan tenaga apoteker semakin penting mengingat luasnya wilayah Kabupaten Parimo. Pemerataan tenaga kefarmasian diperlukan agar masyarakat memperoleh informasi yang tepat mengenai penggunaan obat.
Ia berharap kebutuhan tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah, terutama apabila terdapat pengangkatan aparatur sipil negara (ASN).
“Ini mohon dipertimbangkan. Apabila ada pengangkatan PNS, mohon informasi ini diperhatikan dan kebutuhan tenaga apoteker dapat diisi,” ujarnya.
Basuki menjelaskan, keberadaan apoteker di fasilitas pelayanan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan pelayanan obat, tetapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat agar penggunaan obat sesuai dengan kondisi pasien.
Ia menyoroti masih adanya masyarakat yang memperoleh informasi penggunaan obat secara turun-temurun atau berdasarkan pengalaman orang lain.
“Yang mengkhawatirkan justru informasi yang turun-temurun. Contohnya, pasien A memberikan obat yang digunakan saat batuk kepada pasien B, padahal belum tentu sama,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi setiap pasien berbeda sehingga penggunaan obat tidak seharusnya mengikuti pengalaman orang lain tanpa mendapatkan informasi dari tenaga kesehatan.
“Informasi yang bersifat turun-temurun ini yang harus diedukasi ke masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menyinggung penggunaan antibiotik yang masih kerap dilakukan berdasarkan pengalaman pribadi maupun informasi dari orang lain.
“Begitu juga dengan penggunaan antibiotik. Pasien penderita sakit gigi juga demikian, menggunakan ampicillin, padahal hanya dengan meminum antinyeri sudah cukup,” katanya.
Karena itu, Basuki mengimbau masyarakat, khususnya lanjut usia (lansia), memperoleh obat melalui sarana pelayanan kesehatan resmi seperti apotek, puskesmas dan rumah sakit.
Masyarakat juga diminta tidak sembarangan menerima obat yang ditawarkan dari rumah ke rumah tanpa pendampingan tenaga kesehatan.
Peringatan World Pharmacists Day 2026, kata Basuki, menjadi momentum bagi apoteker untuk memperluas edukasi kepada masyarakat sekaligus memperkenalkan peran tenaga kefarmasian dalam menjaga kesehatan.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di dua lokasi, yakni Auditorium Kantor Bupati Parimo dan Kantor Desa Tomini, Sabtu, 26 September 2026.
Di Auditorium Kantor Bupati Parimo, kegiatan diikuti 100 lansia, sedangkan di Kantor Desa Tomini diikuti 50 lansia.
Rangkaian kegiatan meliputi senam lansia, pemeriksaan kesehatan dan pengobatan, serta penyuluhan mengenai hipertensi dan diabetes melitus (DM).
Basuki berharap momentum World Pharmacists Day tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat memperkuat sinergi antara apoteker, pemerintah dan masyarakat dalam memastikan penggunaan obat yang tepat.
“Melalui World Pharmacists Day ini, masyarakat lebih mengenal peran apoteker dan apoteker lebih bermanfaat bagi masyarakat, sehingga bisa bersinergi dalam memberikan informasi penggunaan obat agar penggunaan obat bisa tepat,” pungkasnya.






