Banjir dan Longsor Kasimbar Berstatus Tanggap Darurat Selama 14 Hari

Avatar
Petugas memperbaiki jaringan pipa air bersih yang terdampak banjir dan longsor di Kecamatan Kasimbar, Senin (31/8/2026). (Foto : IST)

Parigi Moutong, KALAMMEDIA.NET — Banjir dan longsor yang melanda Kecamatan Kasimbar, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, ditetapkan berstatus tanggap darurat selama 14 hari, terhitung sejak 29 Agustus 2026.

Penetapan status tersebut dilakukan untuk mempercepat penanganan di sejumlah desa yang terdampak bencana.

Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parigi Moutong, Rivai, mengatakan status tanggap darurat diperlukan karena kondisi di lapangan membutuhkan penanganan segera.

“Penetapan tanggal 29 kemarin karena memang perlu penanganan segera di lapangan, di desa-desa terdampak,” kata Rivai, Senin (31/8/2026).

Sejumlah wilayah yang terdampak berada di Desa Laemanta Utara, Laemanta Induk, Peningka, dan Labuan Donggulu.

Untuk akses transportasi, Jalan Trans Sulawesi sudah dapat dilalui. Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sulawesi Tengah juga telah melakukan penanganan infrastruktur, termasuk pemasangan jembatan Bailey di Desa Peningka.

“Jalan Trans-nya sendiri sudah bisa dilalui. Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sulawesi Tengah sudah bekerja, kemudian jembatan sudah terpasang,” ujarnya.

Selain akses jalan dan jembatan, penanganan juga dilakukan melalui normalisasi sungai di Labuan Donggulu dengan mengerahkan alat berat.

Namun, BPBD masih membutuhkan alat berukuran lebih kecil untuk menjangkau titik sungai yang akan dinormalisasi.

Sementara di Desa Peningka, Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III Palu telah melakukan normalisasi sungai sejak 29 Agustus 2026.

Pemenuhan kebutuhan air bersih juga dilakukan di desa tersebut menggunakan mobil tangki air (MTA) BPBD Provinsi Sulawesi Tengah.

Rivai mengatakan kerusakan pipa air bersih telah diperbaiki. Namun, masih terdapat jaringan pipa yang terputus di sekitar jembatan dan akan disambungkan kembali pada Selasa (1/9/2026).

“Cuma ada yang masih (pipa) putus di jembatan. Itu yang besok kami akan lakukan penyambungannya kembali,” ujarnya.

Di Desa Laemanta Induk, satu dusun juga mengalami gangguan air bersih. BPBD bersama PMI Parigi Moutong menyalurkan air menggunakan mobil tangki sambil mencari titik kerusakan jaringan.

BPBD Parigi Moutong juga telah berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Sulawesi Tengah untuk penanganan sungai di wilayah tersebut.

“Alhamdulillah, BPBD Provinsi sudah menyahuti untuk normalisasi di Sungai Laemanta Induk, dan rencananya dilakukan bersama dengan penguatan tebing. Sisa eksekusinya lagi mereka akan datang,” ujarnya.

Sementara di Desa Laemanta Utara, pemerintah desa mengusulkan pemasangan geobag untuk menangani kawasan yang jebol. Usulan tersebut telah disetujui BWS Sulawesi III Palu.

Rivai mengatakan jumlah geobag yang akan disiapkan berkisar 300 hingga 500 buah. Material tersebut rencananya diambil dari BWS Sulawesi III Palu untuk dibawa ke lokasi dan dipasang dalam waktu dekat.

“Jumlah pastinya ini antara 300 atau 500 piece. Rencananya besok kami akan ambil di balai sungai untuk kami bawa ke sana,” katanya.

Penanganan bencana di Kecamatan Kasimbar dilakukan secara lintas instansi. BPJN Sulawesi Tengah menangani akses jalan dan jembatan, sedangkan BWS Sulawesi III Palu menangani normalisasi sungai serta penyediaan geobag.

Sementara BPBD Provinsi Sulawesi Tengah menangani normalisasi dan penguatan tebing di wilayah yang membutuhkan.

“Alhamdulillah semua sudah kerja,” ujarnya.

Adapun BPBD Parigi Moutong menangani wilayah sesuai kewenangannya, termasuk normalisasi sungai di Labuan Donggulu.

“Kami sendiri melakukan normalisasi di Labuan Donggulu dan sudah kami lakukan per hari ini,” pungkasnya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *