Daerah  

Banjir hingga Kekeringan Melanda Parigi Moutong, BPBD Perkuat Kesiapsiagaan Bencana

Avatar
Rapat Koordinasi (Rakor) Karhutla, kekeringan dan banjir yang digelar BPBD Parimo, Rabu (26/8/2026).(Foto : Iwan)

PARIGI MOUTONG, Kalammedia.net — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman banjir, kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Hal itu dibahas dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Karhutla, kekeringan dan banjir yang digelar BPBD Parimo, Rabu (26/8/2026).

Rakor tersebut dipimpin Sekretaris Daerah Parimo, Zulfinasran A. Tiangso, yang mengikuti rapat melalui Zoom.

Salah satu pembahasan utama dalam Rakor tersebut yakni penanganan banjir bandang yang menerjang Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara.

Plt. Kepala Pelaksana BPBD Parimo, Rivai, mengatakan pihaknya masih melakukan verifikasi terhadap data rumah warga yang mengalami kerusakan akibat banjir.

“Untuk rumah yang rusak di Avolua, sementara yang terdata ada 13. Tetapi data ini belum final. Awalnya kami menemukan 12 rumah, kemudian ada informasi tambahan satu rumah. Jadi masih mungkin bertambah setelah kami melakukan verifikasi kembali,” kata Plt Kepala Pelaksana BPBD Parimo, Rivai.

Ia menjelaskan, rumah yang masuk kategori rusak merupakan bangunan yang mengalami kerusakan fisik, seperti dinding jebol atau retak.Sementara itu, sekitar 50 rumah lainnya terdampak genangan.Saat ini air telah surut.

“Kalau yang terdampak itu sekitar 50-an rumah. Airnya sudah surut. Sedangkan yang 12 atau 13 rumah ini memang mengalami kerusakan, bahkan ada rumah yang bagian dalamnya tertutup lumpur sampai sekitar satu meter,” ujarnya.

BPBD Parimo juga telah melakukan penanganan terhadap warga terdampak sejak pagi dengan menyalurkan makanan siap saji ke lokasi.

Namun, distribusi bantuan masih menghadapi kendala karena warga terdampak tersebar di sejumlah tempat.

Sebagian warga masih bertahan di rumah masing-masing, sementara lainnya memilih tinggal di rumah tetangga atau keluarga.

“Kami siap dengan makanan, Cuma persoalannya warga ini tersebar. Kami masih mempertimbangkan apakah mereka tetap di rumah masing-masing atau akan disatukan di satu tempat yang lebih nyaman,” katanya.

Selain banjir Avolua, kondisi kekeringan di sejumlah wilayah juga menjadi perhatian dalam Rakor tersebut.

Rivai menyebut wilayah Palasa, Mepanga dan Ongka Malino telah mengalami kondisi tanpa hujan selama hampir dua bulan.

“Kami sudah menerima laporan kekeringan. Sawah sudah ratusan hektare yang mengalami kekeringan. Ada juga laporan sekitar 140 KK mengalami kesulitan air bersih,” ujarnya.

Kondisi kekeringan tersebut tidak hanya berdampak terhadap lahan pertanian, tetapi juga mulai memengaruhi kebutuhan air bersih masyarakat.

Rakor lintas sektor tersebut menjadi langkah BPBD Parimo dalam memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi bencana.

Sejumlah unsur terkait turut dilibatkan, di antaranya Satpol PP dan Damkar, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), TNI/Polri, Dinas Sosial, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), serta Taruna Siaga Bencana (Tagana).

BPBD Parimo memastikan koordinasi lintas sektor terus diperkuat untuk mempercepat penanganan apabila terjadi bencana, termasuk banjir, kekeringan dan Karhutla di wilayah Kabupaten Parigi Moutong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *