LPSB Kailinesia Gelar Workshop Adat, Ajak Generasi Muda Kaili Kenali Akar Budaya

Avatar
Peserta dan panitia berfoto bersama tokoh adat, unsur kepolisian, serta tamu undangan dalam kegiatan workshop adat dan kesenian LPSB Kailinesia di Desa Toboli, Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.(Foto : Istimewa)

PARIGI MOUTONG, KALAMMEDIA.NET – Lembaga Pusat Seni Budaya (LPSB) Kailinesia menggelar workshop adat dan kesenian bertema Petumunaka atau adat penyambutan di Desa Toboli, Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pada 23–25 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi upaya mengenalkan tradisi masyarakat Kaili kepada generasi muda.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini juga dirangkaikan dengan penerimaan anggota baru LPSB Kailinesia. Berdasarkan data panitia, sebanyak 73 peserta terdaftar dalam kegiatan tersebut, dengan dukungan 24 orang panitia. Peserta berasal dari Desa Toboli dan sejumlah desa lain di Kecamatan Parigi Utara, serta beberapa wilayah di luar kecamatan tersebut.

Ketua panitia, Fauzi Rahmat, menjelaskan kegiatan ini bertujuan mengangkat daur hidup masyarakat adat, khususnya masyarakat Kaili, melalui pengenalan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

“Tujuan dari kegiatan sendiri yaitu kami mengangkat daur hidup masyarakat adat, utamanya masyarakat Kaili,” ujar Fauzi.

Sementara itu, Direktur Utama LPSB Kailinesia, Muhammad Taufan, menekankan pentingnya menjaga pengetahuan adat agar generasi muda tidak kehilangan identitas budaya. Menurutnya, pemahaman terhadap warisan leluhur mencakup bahasa daerah, adat istiadat, hingga tata krama dalam kehidupan bermasyarakat.

“Ya, harapan saya sebenarnya ada banyak. Tapi memang merujuk kepada satu tujuan bahwa anak-anak Kaili harus tahu akar budayanya. Jangan sampai anak-anak Kaili hilang di negerinya sendiri, di tanahnya sendiri,” ujar Taufan.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut dapat terjadi ketika generasi muda tidak lagi mengenal bahasa daerah, kebudayaan, serta norma adat yang menjadi pedoman dalam pergaulan sehari-hari.

“Hilangnya ini ya, kita sudah bisa maknai kan. Sudah tidak tahu lagi bahasa daerah, sudah tidak tahu lagi budayanya kita, sudah tidak tahu lagi adat-istiadat, adat tata krama dalam sesama. Nah, itu sebenarnya,” katanya.

Dalam workshop tersebut, peserta juga mempelajari nilai dan fungsi tradisi adat pada masa lalu. Salah satu materi yang dibahas pada hari pertama adalah P’aju, yang berdasarkan pemaparan narasumber berkaitan dengan upaya menjaga harkat dan martabat serta melindungi kekayaan.

Karmin, Galara Petangota Toboli, menjelaskan bahwa dalam kehidupan masyarakat masa lalu, pengawalan terhadap orang yang membawa emas atau kekayaan lainnya diperlukan untuk mengantisipasi ancaman perampokan.

Materi tersebut memperkenalkan nilai dan fungsi sosial tradisi adat dalam kehidupan masyarakat Kaili pada masa lalu.

Melalui workshop adat dan kesenian yang dirangkaikan dengan penerimaan anggota baru, LPSB Kailinesia membuka ruang bagi generasi muda untuk mempelajari warisan budaya Kaili secara langsung.

Kegiatan ini turut dihadiri unsur pemerintah, kepolisian, tokoh adat, dan Sanggar Seni Torayaku yang ikut mendukung pelaksanaan kegiatan pelestarian budaya tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *